Yuk Ngeblog! Direktori Blog Indonesia

DEPAN | DAFTARKAN BLOG ANDA | BELUM PUNYA BLOG? | TENTANG KAMI |

Kotak Peluang Sukses

Kotak Peluang Sukses
• Nama Pemilik: Daniel
• Tanggal: 11/07/2009
• Dilihat: 649 kali.
Kunjungi Blog Kotak Peluang Sukses (Telah dikunjungi: 23 kali.)
Blog tidak bisa diakses?
Kirimkan halaman ini ke teman

Statistik Pengunjung (Daily Reach):

Untuk detail statistik, klik pada grafik.

Sindikasi dari Kotak Peluang Sukses:

Pedagang Gorengan Mampu Meraup Untung 90 Juta sampai 120 juta Perbulan!
Penjual makanan ini dikenal oleh orang Bandung dengan dua suku kata; Gorengan Cendana. Sebuah tenda kaki lima menjual pisang, nanas, combro dan bala-bala goreng, dengan letaknya di Jalan Cendana. Apakah yang membuatnya istimewa?"Kulit gorengannya garing dan bikin ketagihan. Rasanya khas jadi nggak bosen-bosen," tutur Wiwi (22), seorang pembeli yang mengomentari rasanya.Yusuf Amin (53), dikenal sebagai pemilik Gorengan Cendana, mengatakan rahasia gorengan buatannya memang sengaja dibuat kering dan warnanya agak kecokelatan. Makanannya memang lebih pas dimakana diwaktu masih hangat. Tapi, kata Yusuf, Gorengan Cendana dalam keadaan dingin pun akan tetap nikmat.Yusuf Amin (54). Pemuda asal Cirebon (21) yang tidak lulus SD menikah dengan gadis yang bernama Sumarni (14), dengan hanya bermodalkan tekad, Yusuf Amin muda terus berjuang mencari sesuap nasi, untuk menghidupi sang istri tercinta.Ketika sang Istri mengandung, sawah di daerahnya banyak yang kering karena kemarau. Yusuf yang sehari-hari membantu orang tuanya yang sebagai buruh tani pun menganggur. Tak tahan menganggur, Yusuf pun memutuskan untuk merantau ke Bandung pada tahun 1975. Dengan bekal Rp. 500 untuk ongkos naik bis, dan ia akhirnya pergi ke Bandung untuk mencari nafkah bermodal doa dari istri, mertua dan orang tuanya."Saya pertama ke Bandung minta restu orang tua, pidua'na (bahasa sunda artinya meminta doanya) supaya hidup saya berkah. Waktu itu saya tidak minta harta. Itu mungkin dinamakan rejeki berkah. Pendapatan sedikit, tapi cukup untuk yang lain. Apalagi pendapatan banyak" kata Yusuf kepada tabloid al hikmah.Berawal dari berjualan skoteng di Bandung, ia menginap di rumah kakak sepupunya di Cihaurgeulis. Mulai seusai shalat isya sampai jam 2 malam Yusuf pun mulai menjajakan dagangannya dari rumahnya sampai Gegerkalong. Saat itu udara terasa sangat dingin di Bandung, Yusuf terus bersemangat guna membiayai istrinya yang sedang hamil. Terus teringat dipikirannya untuk terus berjualan demi membahagiakan istrinya. Rupiah demi rupiah dia simpan di celengan kalengnya. Hingga pada 25 Agustus 1975 lahirlah seorang bayi laki-laki buah cinta Yusuf dengan Istrinya, perjuangan 20 hari berjualan sekoteng akhirnya dapat membiayai persalinan istrinya.Saat anaknya berusia 8 bulan, Yusuf pun membawa keluarganya ke Bandung. Tinggal di Haur Pancuh bekas jongko pasar yang tidak layak huni sebagai tempat bermukim keluarganya. Dan membeli gerobak sekoteng seharga 4500 milik temannya. Yusuf pun kembali berjualan sekoteng. Dua tahun berlalu ternyata jerih payahnya belum mampu mensejahterakan keluarganya. Ia memiliki cita-cita untuk menyekolahkan anak-anaknya hingga jenjang perkuliahan. Tentu ini cita-cita yang luar biasa, dengan kondisi pada waktu itu.Tahun 1977 akhirnya Yusuf beralih menjadi penjual Gorengan, dengan modal RP. 67500 untuk membeli gerobak dengan peralatannya. Ia pun berjualan di sekitar Ciliwung kota Bandung. Tapi cuman bertahan sebentar, dan kemudian ia pun pindah ke jalan Cendana, karena melihat ada seorang ibu yang juga menjual gorengan disana.Ia memulai usahanya sesudah shalat Dzuhur sampai jam 21.00. Bersama sang istri dan anak pertamanya yang baru berusia 2 tahun kemudian ia memulai berdagang. Hari pertama, Yusuf mengeluarkan modal Rp. 4000 untuk belanja dan hasil penjualannya hanya 400. Tapi itu bukan hal yang membuat Yusuf cepat mengeluh dan menyerah. Berkat ketekunan dan doa, penjualan gorengan dari hari ke hari semakin bertambah hingga akhirnya bisa mencapai balik modal. Yusuf dan keluarga yang selalu sholat tepat waktu dan terbiasa berpuasa senin kamis plus shalat sunat tak lupa ia kerjakan juga.Mulai dari berjualan dengan sepi pembeli sampai dengan hujan-hujanan sambil dorong gerobak bersama istri, anaknya di masukan ke dalam gerobak dengan beralaskan kardus. Ketekunan Yusuf dan keluarga akhirnya berbuah hasil, ditahun 1983 yusuf dapat membeli rumah sederhana dan pada tahun 1988 ia pun dapat berhaji berdua bersama isterinya. Dan sepulang dari Haji usahapun semakin laris.Mulai dari orang biasa sampai konglemerat pernah merasakan gorengannya, kini ia telah bisa menyekolahkan ke empat anaknya hingga perguruan tinggi. Dua orang diantaranya menjadi dokter umum. Tak lupa ia pun membantu anak saudaranya untuk bersekolah sampai perguruan tinggi. Rumah yusuf pun satu diantaranya didedikasikan untuk kepentingan umat dan sisanya untuk anak-anaknya serta karyawannya yang kini berjumlah 10 karyawan. Tak lupa kepada orang tuanya pun dibangunkan rumah dan naik haji. Sampai memberikan beberapa bidang tanah untuk digarap oleh saudara-saudaranya di Cirebon dan memperkerjakan tetangganya yang menganggur. Semua yang ia lakukan bukan hanya untuk dirinya pribadi tetapi untuk sesamanya dan mengharapkan ridho dari Allah SWT.Semua yang dilakukan saat Yusuf masih sangat sederhana, prinsipnya memberi sesuatu tidak mesti menunggu kaya. "Tekad saya, Allah ngasih rejeki. Supaya rejeki itu langgeng, maka harus berbagi dan memang terasa manfaatnya," ungkap Yusup. Sampai saat ini ia pun mengaku meraup keuntungan 3-4 juta perhari atau 90-120 juta perbulan, Omset bisa naik berlipat-lipat saat bulan pernuh berkah tiba (Ramadhan).Itulah perjalanan Haji Yusuf Amin, pedagang gorengan di Cendana Bandung yang bermodal tekad kuat untuk menghidupi keluarganya, mencari rejeki yang berkah tentunya dengan cara yang halal.[sumber dirangkum dari majalah AlHikmah edisi 46]

Ciri Pengusaha Sukses Karena Allah
Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca kitab Allah, mendirikan shalat dan menginfakkan sebagian dari rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perniagaan yang tiada merugi. [QS Fathir {35}:29]Ada seorang pengusaha sukses di Indonesia yang memulai karirnya dengan membuka sebuah bisnis makanan dan kini telah merambah seluruh tanah air dengan puluhan outlet dan cabangnya. Dalam tempo اyang tidak terlalu lama, usaha makanan lezat yang ia rintis berkembang dengan begitu menggurita. Masyarakat pun banyak menggandrungi makanan yang disajikan oleh ‘brand’ restoran miliknya.Suatu saat pernah, beliau menjadi sponsor utama sebuah seminar zakat yang diadakan di kota Medan. Usai menyampaikan materi seminar, para pembicara diajak untuk menikmati santap siang di salah satu restoran milik sang pengusaha.Ketika santap makan siang berlangsung, salah seorang pembicara menyela dengan sebuah pertanyaan kepada pemilik restoran, "Pak, boleh dong berbagi cerita kiat sukses merintis bisnis kayak begini. Sepertinya bapak gak terlalu lama membangun bisnis ini tapi kok langsung menggurita sampai seluruh tanah air. Apa sih rahasianya?" Sambil tersenyum penuh rasa syukur, pengusaha ini menjawab dengan nada yakin: "Pak Ustadz, sama seperti pengusaha lain, saya merintis ini dengan jatuh-bangun. Namun, sejak saya bertekad untuk menaikan zakat saya hingga 5% dari penghasilan. Subhanallah… Allah berkenan memberikan rezeki yang melimpah kepada saya, keluarga dan semua orang yang terlibat dalam usaha ini." Ia menambahkan, "Saya amat percaya, semakin banyak kita membantu Allah, Dia pun akan lebih banyak lagi akan memberikan balasannya kepada kita. Dan itu telah kami rasakan kebenarannya!"Allahu Akbar… Allah Maha Besar… Dia mampu untuk memberikan balasan yang begitu berkah bagi hamba-Nya yang mau berniaga kepada-Nya.Itu cerita dari pulau Sumatera, tepatnya di kota Medan. Lain lagi kisah seorang pengusaha berkah dari Provinsi Jawa Tengah. Banyak usaha yang ia tangani. Mulai dari percetakan, penerbitan, institusi pendidikan, pelayanan haji & umrah, yayasan-yayasan social, dan banyak lagi. Bagi saya, jumlah usaha & kegiatan yang beliau tangani sulit dihitung dengan jari. Terakhir saya dengar, beliau tengah membangun sebuah hotel syariah di bilangan kota yang cukup strategis dengan biaya miliaran rupiah. Hal yang lebih membuat kagum adalah…, semua usaha yang beliau bangun berjalan dengan lancar dan memberi hasil yang tidak sedikit.Subhanallah…, dengan keterbatasan waktu yang dimiliki, beliau amat terampil untuk mengelola semua usahanya. Saya penasaran untuk mengetahui rahasia kesuksesan di balik itu semua. Sampai pada akhirnya, salah seorang staffnya bercerita kepada saya bahwa beliau selalu menginfak-an hampir 30% dari penghasilannya di jalan Allah Swt.Kala krisis moneter, perusahaan percetakan miliknya hampir bangkrut sama seperti usaha yang lain. Sebuah kebijakan yang ia tempuh terdengar aneh saat itu. Para karyawannya yang berjumlah ratusan, tidak ia rumahkan. Bahkan beliau tambahkan gaji mereka. Sehingga membuat karyawan tersebut senang, tidak resah dengan harga bahan pokok yang menggila pada saat itu, dan akhirnya…. mereka pun berdoa untuk kebaikan pemilik usaha. Subhanallah… siapa yang suka memberi, ia pasti akan diberi. Oleh siapa, ya… oleh Sang Maha Pemberi, Al Wahhab!Perniagaan yang tiada merugi… itulah salah satu jaminan bagi orang yang suka berinfak.Cobalah simak hadits 567 bab 60 dalam kitab Riyadhus ShalihinI! Di sana Nabi Saw berkisah, ada seorang petani di Madinah… ia berdiri di antara kebun kurmanya yang kering kekurangan air. Pohon tidaklah subur, sementara buah-buahan tidak muncul dengan baik. Ia khawatir, bila kekurangan air maka kebun tidak akan memberi hasil maksimal untuk kebutuhan hidup ia dan keluarga. Ia menengadah ke arah langit. Kedua tangannya, ia angkat setinggi mungkin seraya merapal lafal-lafal doa kepada Allah agar kebunnya diberi air hujan.Tak lama sejak itu, Allah mengirimkan awan untuk berkumpul. Beriringan sedikit demi sedikit, awan berkumpul dengan cukup lebat di atas kebunnya. Sang petani tersenyum kegirangan. Dalam hatinya, ia berucap… "Allah mengabulkan doa & permintaanku tadi!" Namun sebaliknya yang terjadi. Terdengar olehnya sebuah suara yang berasal dari langit dan berbunyi, "Wahai awan, pergilah ke tanah si Fulan…!"Maka berjalanlah awan ke arah lain, ke tempat yang tidak diketahui oleh si petani yang baru saja berdoa. Kekesalan membuncah dalam batin sang petani. "Mengapa hujan tidak jadi turun di tanahku?" gumamnya. Ia pun penasaran. Ia berlari dan terus berlari. Mengikuti kemana awan akan berhenti dan menurunkan air yang dikandungnya.Sampai di suatu tempat yang subur… daunnya rimbun… dan memiliki air yang banyak. Awan pun berhenti dan mencurahkan segala air yang berada di dalam perutnya. Si petani menatap keheranan…, tatkala dilihatnya ada seorang pria bersahaja yang sedang berdoa syukur kepada Tuhan karena telah memberi rahmat pada tanahnya.Saat itu, si petani memanggil nama si pemilik tanah. Sang pemilik tanah merasa heran lalu bertanya, "Saudara, dari mana Anda tahu namaku?" "Itulah saudaraku, aku sendiri ingin bertanya sebaliknya, amalan apa yang membuat usahamu begitu berkah hingga namamu ku dengar dari suara langit yang memerintahkan awan untuk menurunkan hujan di sini…, di tanahmu!" Subhanallah! Bukankah ini sebuah prestasi hebat, hingga membuat nama seseorang disebut di langit?Si pemilik tanah mencoba menjawab pertanyaan petani, "Saudara, belum ada orang yang aku beritahukan tentang amalan yang aku kerjakan sehingga membuahkan hasil sedemikian. Namun karena engkau telah tahu sebagian rahasia ini… dan juga karena engkau telah menanyakannya, maka tak layak bagiku untuk merahasiakannya lagi.""Ceritakanlah padaku, wahai Saudara!" gegas si Petani sebab penasaran."Rahasianya mungkin adalah…. Setiap kali kebun dan tanah ini memberi hasil, hanya sepertiga darinya yang aku makan. Sepertiganya lagi aku kembalikan kepada tanah ini sebagai tambahan modal. Lalu sepertiganya lagi, aku berikan kepada Allah Swt sebagai infakku di jalannya. Itulah amalan rutin yang aku kerjakan sehingga membawaku pada hasil yang sedemikian."Subhanallah…!! Pemilik tanah tersebut memberikan sepertiga dari penghasilannya untuk Allah Swt. Tak pelak, Allah Swt pun memuliakannya. Saudaraku…, bila dalam merintis usaha, perniagaan, perdagangan atau apapun yang kita lakukan… bila kita sering mengalami kerugian, kebangkrutan, kredit macet dan lain sebagainya yang dapat membuat usaha kita mengalami kemunduran. Maka…, cobalah resep di atas! Insya Allah, Anda akan merasakan apa yang mereka rasakan, yaitu Perniagaan yang Tiada Merugi Disebabkan Infak di Jalan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Selamat Mencoba![Sumber: fhea.wordpress.com]

Bang Ucok, Dari Pelayan Hingga Kantongi Ratusan Juta Tiap Bulan
Benarkah industri rumahan tak dapat bertahan bahkan bersaing di era kapitalisasi dan perdagangan bebas seperti sekarang ini? Jawabannya, tentu tidak.Setidaknya, itulah yang dibuktikan oleh Bang Ucok alias Sriyadi Nadeak (42) dengan usaha industri konveksi rumahannya. Sejak didirikan 6 tahun lalu hingga sekarang, usaha industri konveksi Bang Ucok mampu tetap berjalan bahkan terus berkembang dan mendatangkan keuntungan yang menjanjikan.Sudah sejak 6 tahun lalu, Bang Ucok menggeluti usaha industri pembuatan jeans. Sebuah "pabrik" konveksi mini didirikannya di bilangan Kebon Kacang, Jakarta Pusat. Dengan dibantu sekitar 40 orang karyawan, setiap harinya pria asli Medan itu memproduksi ratusan celana jeans yang kualitasnya tak kalah dengan produk-produk buatan pabrik besar bahkan produk impor.Selain dipasarkan di toko miliknya di pusat grosir Blok F Tanah Abang, Jeans-jeans keluaran pabrik mini Bang Ucok tersebut juga sudah menjamah pasar nasional, di hampir seluruh wilayah Indonesia. Diakui Ucok, usaha ini dimulainya dengan susah payah dari nol.Dulu Bang Ucok hanya seorang pelayan toko jeans di Pasar Tanah Abang. Tak pernah ia bayangkan sebelumnya dirinya dapat membuka usaha industri pembuatan jeans sendiri. Sampai suatu saat, pemilik toko tempat Bang Ucok bekerja mengangkatnya sebagai marketing sekaligus orang kepercayaan.Naik posisi, tak ayal, penghasilan Bang Ucok pun meningkat. Sejak saat itu, Bang Ucok mempunyai keinginan untuk membangun usaha sendiri. Sedikit demi sedikit ia kumpulkan hasil keringatnya. Sampai akhirnya, pada sekitar tahun 2003, terkumpul modal yang cukup dari hasil jerihpayahnya itu.Dari modal yang terkumpul lantas Bang Ucok memutuskan untuk mendirikan usaha industri rumahan pembuatan jeans, bidang yang sudah dipahaminya sejak menjadi pelayan toko. Sejumlah mesin jahit dan peralatan untuk membuat jeans dibeli.Tetangga-tetangga di sekitar rumahnya pun dirangkul dan diberdayakannya untuk menjadi pekerja di pabrik mini yang dibuatnya. Dengan perjalanan yang tak mulus, usaha industri pembuatan jeans milik Bang Ucok itu pun akhirnya dapat berjalan dan bertahan hingga sekarang. Bahkan, bertambah maju.Percaya atau tidak, saat ini, dari usaha rumahan tersebut Bang Ucok dapat mengantongi omzet hingga lebih dari Rp 500 juta rupiah per bulan. Nilai pendapatan yang fantastis untuk ukuran sebuah industri konveksi rumahan. Ditanya mengenai kunci kesuksesannya hingga mampu bertahan sampai sekarang, pria yang berpenampilan sederhana itu mengungkapkan rahasianya."Yah, yang paling penting adalah selalu menjaga kualitas produk yang kita hasilkan Mbak. Harus terus buat inovasi baru dan original pastinya. Satu lagi yang paling penting harus selalu menjaga kepercayaan dan membuat senang pelanggan. Saya punya satu cara Mbak untuk membuat pelanggan saya selalu senang, pakai jurus kopi panas," kata Bang Ucok saat ditemui di pabriknya.Bang Ucok memang punya cara unik untuk menyenangkan pelanggan yang datang ke toko ataupun ke pabriknya. Dia selalu menyuguhkan segelas kopi panas untuk para pelanggannya."Biasanya kalau ada pelanggan atau pembeli datang saya akan menyuruh asisten saya untuk membuatkan kopi panas pas saya sedang meladeni pelanggan lain. Kalau saya suguhkan kopi panas, mereka akan betah nunggu sampai saya selesai melayani pelanggan lain, sampai kopinya dingin juga. Tapi, kalau disuguhkan air dingin, kan mereka capek tuh, haus, airnya cepat diminum habis deh. Airnya habis, kalau saya belum selesai melayani pelanggan lain mereka akan cepat bosan. Akhirnya, mereka minta ya udahlah Bang balikin aja lah uangnya, kelamaan. Biasanya begitu," tandasnya.Sumber dari: kompas.com

Tri Setyo Budiman, sang Miliarder dari Warung Bakso
*Dulu Dorong Gerobak, Kini Omzet Rp 22 Miliar Per Bulan*Tidak perlu modal besar atau produk mewah untuk menjadi miliarder. Tri Setyo Budiman, alumnus Teknik Kimia Institut Teknologi Bandung (ITB), berhasil memperoleh miliaran rupiah per bulan dari usaha warung bakso.*SOSOKNYA* tinggi besar. Suaranya juga besar dan berwibawa, kontras dengan penampilannya yang sederhana. Di salah satu kedai baksonya, Tri Setyo Budiman hanya mengenakan kaus polo dan celana pendek.Tidak disangka, pria yang menikmati masa remaja di Batu, Jawa Timur itu sukses mengeruk fulus dari bisnis yang kerap dipandang sebelah mata: warung bakso. "Bakso memang kadang dilihat sebelah mata, berbeda ketika kita bicara steak atau pizza. Mungkin karena citra warung bakso itu kumuh dan sempit," katanya.Begitu pula keputusannya yang tidak populer 15 tahun lalu saat terjun sebagai wirausahawan. Padahal, sebagai manajer pemasaran nasional William Russel Grace Company, sebuah perusahaan kemasan makanan asal Amerika Serikat, saat itu dia menikmati gaji Rp 7,5 juta per bulan plus tunjangan rumah dan sebuah mobil dinas."Saya merasa potensi dan kemampuan saya tujuh. Tapi, hanya dihargai dua oleh perusahaan. Karena itu, dalam usia 32 tahun, saya ambil pensiun diri, bikin perusahaan sendiri," ujar pria kelahiran Sumenep, Madura, 24 Juli 1961 itu.Bisnis kuliner dipilih lantaran tak pernah mati. Selama orang masih butuh makan, bisnis rumah makan tetap hidup. Bakso lantas dipilihnya karena bisa dimakan siang maupun malam, seperti juga masakan padang. Apalagi, selama ini bisnis itu menghidupi puluhan juta orang."Masalahnya, saya tidak bisa bikin bakso. Karena itu, saya pulang ke Batu, beli resep bakso dan kuah dari salah satu kedai bakso yang terkenal di sana," katanya.Dengan modal dari sebagian uang pensiun, Tri membuat gerobak bakso. Nahas, karena tidak berpengalaman mengoperasikan, gerobaknya terbakar. Tungku api di bawah ketelnya terlalu dekat dengan dinding gerobak. "Begitu dinyalakan, langsung terbakar, habis," katanya terkekeh.Tak menyerah, dia membuat satu gerobak lagi. Gerobak itu yang lantas didorong keliling kampung di sekitar rumahnya di Jalan Empang Tiga, Kalibata, Jakarta Selatan. Uniknya, Tri memilih trik promosi yang tidak biasa. Dia berkeliling kampung untuk membagikan seluruh bakso yang dimasaknya hari itu."Akhirnya orang sekampung tahu saya jualan bakso, dan baksonya enak. Prinsip saya, sebelum kita kuasai kampung orang, kita kuasai dulu kampung kita," terangnya.Strategi itu efektif. Tak lama berkeliling, Tri lantas membuka kedai bakso di garasi rumah. Kedai yang diberi nama Ino (nama panggilan anaknya, Platinum) itu pun laris. Dalam waktu tak terlalu lama dia bisa membuka cabang di salah satu pusat perbelanjaan di JakartaTimur. "Begitu satu cabang bisa hidup, cash flow-nya bagus, saya langsung buka di tempat lain. Begitu terus sampai saya masuk ke rest area di jalan tol, mal, dan stand alone (kedai bakso untuk pasar premium)," katanya.Jumlah cabang yang terus berkembang menimbulkan masalah, terutama pada keseragaman kualitas dan rasa baksonya. Pasalnya, membuat bakso dari 300 kilogram daging tidak semudah ketika hanya membuat bakso dari sekilogram daging. Bila kondisi itu dibiarkan, 200 ribu butir bakso yang dibuatnya setiap hari terancam tidak sama rasanya di tiap kedai."Kadang koki arogan, rasa bakso harus seperti keinginannya. Padahal, tidak bisa seperti itu, karena saya bikin bakso itu pakai penelitian. Berapa porsi dagingnya, berapa tepungnya, bagaimana masaknya, berapa lama supaya kenyal. Itu semua pakai penelitian," katanya.Karena itu, Tri lantas membuat dapur khusus pembuatan bakso dan bumbu masak di rumahnya. Bakso dan bumbu yang sudah setengah jadi didistribusikan ke seluruh cabang, termasuk ke Mal Nagoya di Batam. "Saya buat penelitian lagi. Bumbunya saya bikin jadi pasta dan powder (bubuk). Takarannya juga diseragamkan. Jadi, koki tidak bisa lagi memelintir rasa," katanya.Dari dapur itu Tri lantas berkreasi membuat item-item masakan lain. Mulai bakso urat, bakso daging sapi, bakso gepeng, hingga bakso campur. Belakangan, sejumlah masakan lain juga dipasarkan di kedainya, mulai gado-gado, soto betawi, sop iga, rawon, nasi goreng seafood, kwetiaw, cap cay, dan fuyunghai.Dia juga berkreasi membuat masakan western, seperti spaghetti, bolognaise, chicken wing, dan french fries. "Total ada 40 masakan yang bumbunya dibuat secara seragam di dapur sentral. Semua kedai harus patuh hanya berjualan yang ada di menu list saya. Jangan sampai ada yang jual kupat sayur misalnya," katanya.Perlakuan yang sama harus diberikan karena tidak semua kedai dimiliki secara penuh. Sebagian kedai didirikan dengan modal teman-temannya. Ini dilakukan karena pembuatan satu kedai tidak murah. Nilainya bervariasi, antara Rp 400 juta seperti kedai di Cijantung dan Kalibata, Rp 800 juta seperti di Rest Area Km 19 Tol Cipularang, hingga Rp 1,2 miliar seperti di kedai Tebet. "Semua bisa balik modal 2-3 tahun," katanya.Hingga kini gerai di Rest Area Km 19 paling ramai dan memberi kontribusi terbesar bagi total omzet bakso Ino. Setiap bulan rata-rata 15 ribu pengunjung menikmati bakso di sana. Setiap pengunjung rata-rata membelanjakan Rp 25 ribu."Setiap gerai rata-rata mendapatkan Rp 50 juta per hari atau sekitar Rp 1,5 miliar per bulan," ungkapnya. Dengan kata lain, bila dikalikan dengan 15 kedai yang dimiliki, Tri Setyo Budiman bisa memperoleh penghasilan rata-rata Rp 22,5 miliar per bulan.Salah satu kiat suksesnya adalah pemilihan lokasi. Tri mengaku biasa menongkrongi calon lokasi kedai berhari-hari sebelum memutuskan mendirikannya di sana. "Kalau kita pakai prinsip lima P dalam marketing, di bisnis kuliner itu tiga P, pertama place (lokasi), baru product (produk) dan price (harga)," akunya.Bukan berarti Tri tak sempat bangkrut. Dua kedainya di Cikeas dan Bendungan Hilir bangkrut tak sampai setahun setelah didirikan. Bukan karena miss manajemen, melainkan faktor eksternal. Kenaikan harga BBM membuat kawasan industri di Cikeas bangkrut. Otomatis kedai bakso Ino terkena imbasnya."Ada pula kedai bakso di sebuah rumah sakit di Benhil yang tutup karena orang enggan makan di rumah sakit yang dianggap sumber penyakit. Padahal, di kedua tempat itu traffik-nya ramai," katanya.Tri menegaskan, bila seseorang memutuskan terjun sebagai wirausaha, salah satu syarat untuk survive adalah kesabaran. "Tidak ada sukses yang instan di bisnis. Perlakukan bisnis seperti bayi setiap hari, sehingga sukses hari ini hanya journey (perjalanan) , bukan destination (tujuan)," papar alumnus SMAN 3 Malang itu.Meski kedai baksonya maju luar biasa, Tri mengaku tak berniat mewaralabakan bisnisnya. Dia menilai waralaba akan berdampak buruk dalam jangka panjang, terutama dari segi kualitas produk. Hingga kini Tri juga mengaku kerap menahan dongkol karena satu lokasi yang sudah diincar justru diberikan kepada waralaba asing, seperti kedai kopi Starbucks atau Dunkin Donuts.Pemilik gedung, kata dia, melihat keberadaan mereka sebagai prestise. Jadi, tanpa diminta mereka menyediakan space yang paling strategis. Kalau perlu, sewanya murah. "Kita yang mau bayar sesuai tarif justru ditolak-tolak. Jadi, kalau Starbucks ramai itu bukan hal yang aneh. Anak kecil juga bisa," kata ketua DPP Asosiasi Pedagang Mie dan Bakso (Apmiso) ini geram.

Cara Paling Mudah Meyakinkan Pelanggan
Kejujuran adalah kebijakan customer care yang terbaik. Temukan bagaimana pelanggan bisa mempercayai Anda.Jika Anda tidak menawarkan servis yang spesifik, apakah Anda mengatakan yang sebaliknya? Akankah Anda mengatakan Anda buka di saat-saat tertentu, padahal tidak? Atau Anda menerima pembayaran tertentu padahal tidak?Saya pernah bekerja di perusahaan yang demikian. Setiap harinya si pemilik usaha ini tidak pernah jujur. Mengapa? Agar orang mau mampir di tempatnya.Tapi pada intinya semua yang mereka upayakan hanyalah membuang waktu dan mengecewakan orang lain. Bos tidak pernah menghadapi pelanggan yang kesal. Karyawan dibiarkan mengatasi kekacauan yang terjadi.Seringkali karyawan berbohong pada bos, dan mereka juga berbohong pada pelanggan. Kacau, bukan? Bukan lingkungan yang sehat. Dan ini salah satu alasan saya tidak lagi bekerja dengan mereka.Ini juga salah satu kesalahan terbesar yang dibuat dalam bisnis. Jika pelanggan tidak mempercayai Anda, bagaimana mereka merasa nyaman dan mereferensikan Anda pada teman-temannya ? Bagaimana karyawan bisa merasa yakin untuk mempromosikan Anda?Apa yang harus Anda lakukan?Mengapa tidak mencoba jujur? Jika Anda jujur, Anda membangun kepecayaan. Bukan merusaknya. Meskipun dengan demikian Anda kehilangan pelanggan karena Anda tidak bisa melayani mereka dengan baik. Mereka akan menghargai Anda membantu mereka mencarikan orang yang bisa membantu mereka. Dan mereka akan mengingatnya ketika teman mereka membutuhkan bantuan Anda.Dan dalam kondisi ekonomi saat ini, kepercayaan menjadi sangat berharga. Karena ini membuat orang merasa nyaman dengan apa yang Anda lakukan.Apa yang terjadi jika orang merasa nyaman dengan bisnis Anda?Tentu saja mereka akan mempromosikan Anda. Dan orang-orang ini lebih kredibel daripada apapun yang bisa Anda katakan tentang diri Anda. Inilah mengapa testimoni sangat penting di website Anda.Testimoni memberikan kesempatan pada orang lain untuk melihat Anda bekerjasama dengan siapa saja. Klien potensial selalu mencoba menempatkan pada posisinya. Mereka bertanya pada dirinya sendiri, "Apakah orang ini seperti saya? Apakah mereka memiliki masalah yang sama seperti saya?"Cara terbaik adalah dengan menggunakan nama lengkap, identitas dan gambar jika memungkinkan. Gambar sangat penting. Sekali lagi pelanggan potensial ingin melihat apakah mereka cocok dengan bisnis Anda.Sekarang Anda berpikir, apakah orang benar-benar membaca tertimoni?Jawabannya adalah "iya..." Jika mereka memiliki beberapa substansi terhadapnya. Pernahkan Anda membaca user review di Amazon? Namun, ketika semua sudah usang, orang akan mengembangkan apa yang saya sebut dengan "Kebutaan Testimoni". Seperti kebutaan iklan yang banyak kita temui saat ini.Bagaimana menghindari "Kebutaan Testimoni?"Satu cara adalah dengan membuat testimoni Anda mengatasi hambatan yang dimiliki pelanggan potensial. Ada beberapa jenis keraguan di bagian pelanggan Anda sebelum mereka memutuskan bekerja dengan Anda. Tanyakan apa hal tersebut.Seperti kebanyakan orang lain akan menghadapi hambatan yang sama. Jika seorang pelanggan yang puas bisa menenangkan pikirannya, Anda telah mempermudah pelanggan potensial untuk berbisnis dengan Anda.Tapi ingatlah, semua ini berawal dari kejujuran.Dan tentu saja pelayanan yang sangat baik. Tapi jika pelanggan tidak mempercayai Anda, mereka tidak akan mempromosikan Anda. Maka akan lebih sulit untuk melakukan bisnis lagi. Dan menarik pelanggan lain yang Anda sukai untuk bekerja sama.Apakah Anda memiliki testimoni di website Anda?Mulai kumpulkan sekarang. Dan gunakan secara strategis untuk mendukung Anda. Anda juga akan belajar banyak hal tentang usaha Anda dan bagaimana pelanggan menerima Anda.Sumber dari: suaramedia.com

Komentar

Belum ada komentar untuk file ini

Tambah Komentar

Nama anda

Email anda

Komentar

Kode Anti-Spam:

security image

KATEGORI:
SPONSOR: JawaraHosting.com
SPONSOR:
Your Ad Here
PENCARIAN:
 
SPONSOR:

Your Ad Here

Blog Lainnya Di Kategori Bisnis:
Sindikasi Acak:
LIVE TRAFFIC:

Bebaskan Ibu Prita Mulyasari!
Jangan Kutip Roy Suryo, daripada dibilang salah kutip