Yuk Ngeblog! Direktori Blog Indonesia
DEPAN | DAFTARKAN BLOG ANDA | BELUM PUNYA BLOG? | TENTANG KAMI |
Painting The Sky
• Tanggal: 27/05/2009
• Dilihat: 271 kali.
• Kunjungi Blog Painting The Sky (Telah dikunjungi: 6 kali.)
• Blog tidak bisa diakses?
• Kirimkan halaman ini ke teman
•
Statistik Pengunjung (Daily Reach):
Untuk detail statistik, klik pada grafik.Sindikasi dari Painting The Sky:
Invent
"We can spend our lives letting the world tell us who we are. Sane or insane. Saints or sex addicts. Heroes or victims. Letting history tell us how good or bad we are. Letting our past decide our future. Or we can decide for ourselves. And maybe it's our job to invent something better."— Chuck Palahniuk (Asfixia).
---
Tujuh dan jumat. Semestinya jatuh demikian ya tahun ini, supaya lebih istimewa. Supanya lebih hingar untukmu sendiri, karena kau selalu membesarkan jumat. Mengidolakan tujuh.
Kali ini surat untukmu, dari satu tanah yang lumayan jauh dari kotamu. Kepada Onyet.
Yang besok genap dua dasawarsa.
Tidak banyak yang bisa kubilang, selain terus berharap kau akan bergerak maju dan lupa caranya mundur.
Karena mundurmu itu jarang ada efek bagusnya, dan karena maju mu itu penting di hari-hari sekarang ini, dimana sebenarnya dunia sedang siap menghadiahimu dengan kebahagiaan. Satu demi satu. Datang perlahan-lahan, tapi pasti.
Mempelajari hidupmu, belajar jadi pemimpin yang tangguh, harus kau lakukan. Karena selama berbulan-bulan ini aku mempersiapkanmu untuk jadi pemimpin, kepala, bukan ekor.
Pegang prinsip, jadi tangguh, melawan apa yang bukan fokusmu, bervisi jauh ke depan.
Satu demi satu hal terjadi, memungkinanmu untuk belajar. Jadi dewasa, jadi perempuan dewasa.
Kita lihat nanti, sepuluh tahun lagi, seperti apa kau. Itu taruhan kita sekarang? setuju?
Bahwa aku, dan dia, yang belakangan ini semakin kusayang itu selalu memperhatikanmu, bahwa rasanya kau memang akan tetap jadi anak kecil untuk kami berdua, itu semestinya kau tahu.
Bahwa kita sekarang ada di tiga pulau yang berbeda, yang masing-masing hanya bisa bertukar kabar dari udara dan teks singkat, dan bahwa aku sebenarnya kangen hari-hari dimana kita bisa ketawa habis-habisan tengah malam sampai serak.
Iya, itu aku kangen. Suara kalian. Malam-malam itu.
Tahun ini semestinya jadi awal yang meyakinkan untukmu melangkah maju. beberapa langkah.
Karena sekarang aku berjaga di masa lalumu, dan kakakmu itu, mudah-mudahan dia menarikmu berlari ke masa depanmu. Karena kami ada di masa kini, meyakinkanmu untuk semua yang belum pasti itu pasti bisa dilalui.
Selamat ulang tahun si Jumat keramat,
7 September 2010, bintang virgo, pipi tembem, ijo toska, tukang gombal.
Semoga tiap menit yang berlalu sejak besok kau bangun, jadi menit yang kau nikmati sepenuhnya.
Perjalanannya masih jauh, dari sekarang sampai nanti. Waktunya masih panjang, dan kau masih muda.
Nikmati dan pelajari. Mulai belajar memikul tanggung jawab. Karena kita ada taruhan berjangka waktu sepuluh tahun, ingat.
Karena kita punya hati yang tidak terpatahkan. Bagaimanapun tidak akan terpatahkan lagi.
Karena kita bisa, karena kita kuat, lebih kuat dari kemarin. Karena itu kita pasti menang melawan apa yang menghambatmu selama ini.
Ingatkan aku, dan aku ingatkan kau. Begitu polanya.
Selamat ulang tahun putus asa.
Dari aku, putus cinta.
---
Sah sudah dia jadi tua.
PS : happy birthday juga buat oom yang anaknya kusayang itu.
The Scattered Us
"My doctor told me to watch my drinking. Now I drink in front of a mirror."— Rodney Dangerfield
---
Tinggal di satu tempat yang nyatanya jauh darimanapun itu sesekali menyenangkan. Tidur ditemani jangkrik.
Berangkat kerja disambut barisan pohon pisang yang rajin memberi hormat setiap hari. Pulang kadang disusupi satu dua ular pohon yang sudah sembunyi beberapa jam sambil berjemur diatas jip.
Satu dua kali, menyenangkan. Jauh dari manapun. Terdampar sendiri.
Semuanya, kecuali kamu.
Kamu yang jauhnya setengah mati dari saya. Kamu yang pulaunya berbeda dengan saya.
Kamu yang katanya semalam tidur sebelahan dengan mamamu yang berpiyama gambar domba.
Kamu yang sekarang senyum sendiri.
Apa yang membuat kita bertahan, bukanlah semua janji dan harapan yang kita sendiri tidak pasti.
Itu entah apa namanya. Karena ketika 7 menit total sambungan telepon yang terputus-putus itu, rasanya lebih memberi tenaga dari pada kopi yang tiap pagi siang malam ada disini. Lebih dari standar tidur cukup 7 jam sehari. Lebih dari apa yang saya punya disini. Itu yang kamu berikan.
Karena kita harus bertemu untuk memastikan semuanya ini nyata. Karena mungkin kamu dan saya, hanya sepasang karakter di khayalan wanita tua yang sudah terbaring di panji jompo, membayangkan kisah romantis yang mungkin dia punya berpuluh tahun yang lalu.
Mungkin karena itu, saya begitu ingin menyentuh jari manismu. Memastikan masih ada ruang.
Karena mungkin suatu saat nenek itu bangun, dan mimpinya buyar.
Lalu kita musnah.
Tidak akan terjadi kan, kalau kita mengikat apa yang ada diantara kita dengan simpul yang kuat.
Tidak perlu terlalu rapat. Kuat saja, karena rapat itu menyesakkan kan?
Karena kamu, akan sesekali lebih bahagia dengan waktu yang kau habiskan dengan dirimu sendiri.
dan karena kadang saya sesekali terlalu larut menikmati udara malam dengan beberapa batang rokok itu.
Kamu dan saya. Yang kemudian beranjak jadi kita di bandara Soekarno Hatta.
Itu yang saya rindu.
---
*berencana bangun menara khusus buat cari signal salah satu provider.
Celah
“It’s wrong what they say about the past, I’ve learned, about how can bury it. Because the past claws its way out.”-Khaled Hosseini, The Kite Runner.
---
Surat terbuka kepada mereka yang sibuk merancang masa depan, dan masih menggenggam masa lalu.
Kepada mereka yang bernasib mirip dengan saya, dengan pemikiran-pemikiran yang serupa.
Kepada kalian, yang berusaha menutup masa lalu kalian rapat-rapat, menguburnya ke dalam gunung es terdalam, berharap gunungnya tidak retak, dan bongkahan masa lalu keluar.
Bagaimana kalau saya bilang saya tahu persis caranya?
Cara untuk membuat semuanya jadi berbeda, seperti seolah kau adalah manusia baru yang semenit lalu selesai dicetak Tuhanmu. Bagaimana kalau saya bilang saya tahu caranya, percaya?
Caranya, lari ke tempat yang jauh, ke suatu tempat yang terisolasi dari dunia. Cari tempatnya, tentukan tanggalnya, lari sekencang yang kau bisa. Kesana.
Lihatlah matahari yang sama dengan terik yang berbeda, bulan yang sama dengan nyamuk yang berbeda, dan tentunya udara yang sama, dengan taburan debu yang berbeda.
Lakukan saja, dan lihat apakah kau akan berubah menjadi orang yang berbeda.
Karena di pagi hari kau bangun di dalam kabin yang berbeda, menyeduh kopi yang berbeda, bertukar pikiran dengan orang yang berbeda, dan masa lalumu, sudah entah dimana.
Percaya kalau saya bilang itu semua benar?
Bodoh kamu kalau percaya.
Kalau segampang itu, maka tempat ini pasti penuh dengan para pelarian. Pelarian seperti saya. Orang yang mengingkari nasib. Orang yang menjerat mati masa lalunya, melemparkannya ke sumur terdalam, mengubur rapat-rapat dengan semua yang dia bisa lakukan. Batu besar, kerikil, lalu diisi pasir.
Tapi masa lalu itu, sungguh bisa saya bilang, mereka adalah makhluk yang paling jahat di dunia.
Lebih dari uang, lebih dari semua yang kau punya, lebih dari obsesimu.
Karena dia selalu menguap naik, melewati semua celah, kembali ke permukaan. Untuk kembali berkeliaran di matamu, menjadi apa yang kau lihat dan rasakan.
Tugasmu hanya memperhatikan dia. Perhatikan saja, jangan bunuh lagi. Karena nanti juga dia pasti mati sendiri. Saya percaya, dia tidak akan tahan dengan semua perangkap yang kau buat untuk dia. Semua rokok yang jadi abu, semua tulisan omong kosong, semua kemarahan, dan kesendirian.
Kau, manusia-manusia yang 'seiman' dengan saya. Percayalah itu. Bahwa masa lalumu itu, kalau kau pertahankan, akan merampas dengan kejam semua masa depanmu.
Bahwa dia tidak akan menyia-nyiakan semua kesempatannya, demi menjadikanmu tahanannya.
Supaya kau tetap bertahan menarik kakinya. Berharap apa yang kau pikir masa yang indah itu kembali.
Lupakan saja. Kalau kau mau, bunuh lagi, berulang-ulang.
Siapa yang habis duluan nyawanya, kau atau dia.
Karena kebahagiaanmu, bukanlah lagi masa lalumu. Tapi rencana masa depanmu. Semua rencanamu.
Karena hati manusia pasti melekat erat di 'hartanya'. Dan karena itu adalah sifat manusia. Maka lawan.
Lawan sekuat tenaga. Hadapi dan jangan lari. Karena dia mengejar.
Hajar dia sampai kau lebam. Tapi jangan kalah. Bagaimanapun jangan kalah.
Karena kita tidak harus seperti gajah, yang menyimpan semuanya.
karena sesekali dalam hidup, ingatan itu perlu ditiadakan. Karena itu, maka maju. Hajar dia.
Ayo perang!
---
Hari ini hari ketiga peperangan saya. dan masih berlanjut.
Saya masih menang. Kamu?
Space Monkey
"Without pain, without sacrifice we would have nothing. Like the first monkey shot into space."— Chuck Palahniuk (Fight Club)
---
Jadi disinilah saya. Di beberapa pulau yang berbeda dalam waktu 2 malam.
Pemakaman yang berakhir dengan acara kremasi. Acara pindah rumah salah satu saudara mama saya.
Dari satu pesawat ke pesawat lain, melihat pramugari berbaju oranye yang berbeda.
Menunggu di beberapa bandara yang berbeda.
Dijemput dengan orang-orang yang berbeda juga.
Rasanya, singkat saja. Luar biasa aneh.
Semalam saja di rumah, bicara panjang dengan papa saya. Dari topik a sampai z.
Dari isu politik, perkembangan kedua saudara muda saya, tentang kebiasaan merokok, permainan catur saya yang rupanya membaik kata dia, dan terakhir, tentang hidup saya, pengalaman dia.
Kami bicara, dari awal dia menjemput saya, sampai subuh, nonstop kecuali break untuk mandi.
Makan berdua, di pinggiran jalan. Dari satu warung soto, berpindah ke kedai kopi, lalu pulang, disambung pertandingan catur dan acara merokok bersama di teras.
Malam yang singkat, pembicaraan panjang, seperti mengejar ketinggalan.
Saya bertemu papa saya dua hari. Bertemu mama saya satu hari setengah. Bertemu yopi satu hari.
Bertemu keluarga besar mama saya, satu hari full. Mereka dengan segala pertanyaan.
Tentang saya, kalimantan, tentang beberapa hal di masa lalu, dan tentang kalimantan lagi.
Cukup tidak stressnya? lumayanlah.
Hari kedua, saya jadi satu satunya orang yang mau membawa foto, duduk di paling depan ambulans.
Untuk dia. Paman saya yang jagoan.
hey. mister onces, ini denny, yang dulunya suka kencing di bawah pohon itu, ingat?
yang biasanya mojok sendiri main kelereng, ingat?
yang kelerengnya sekaleng roti, hasil dari taruhan sama kawan-kawannya, yang lalu kawan dia itu nangis keras dan kau sibuk marahi dia? ingat?
paman, ini denny, yang selalu kau jagokan tiap kita adu main jongkok.
orang yang selalu kau ceritakan tentang esensi berkorban, tentang bagaimana ketika semua yang terjadi di hidup saya, cuma kau paman saya yang bilang, begitulah esensinya. berkorban untuk apa yang kau sayang.
ingat?
Cuma paman saya itu yang tidak pernah ingin mengatur hidup para keponakannya, cuma dia.
dan cuma dia yang selalu masih rajin menelpon saya dari jauh, sekedar menyampaikan bahwa dia bahagia dengan pohon mangganya yang baru berbuah banyak.
Bahwa ada tetangganya yang selalu rajin membuatkan kue untuknya.
bahwa hal hal kecil yang saya lewatkan, ada artinya buat dia.
Tentang awan yang hari ini lebih terang, tentang semut semut yang barisannya panjang sampai ke tembok belakang rumah. Hal hal kecil.
Cuma dia yang ngotot ingin kremasi dan ditebar di laut, supaya bisa jalan-jalan ke mana-mana.
Karena katanya dia ingin ke alaska. Ke denmark, dan tentu kota asal mantan istrinya, copenhagen.
Mister onces, kalau kau ketemu Tuhan,
jangan buat dia repot olehmu. Janji?
jangan suka miskol dia, jangan suka ribut soal suara bising pesawat di atas rumahmu,
bilang sama dia, kau bahagia, tanpa istri, tanpa anak. Itu pilihanmu.
Hidup sendiri selama 36 tahun. Pilihanmu.
Dan, sampaikan pada Tuhan yang kau jumpai.
bilang pada dia. jaga baik baik dia,
yang tadi sore bilang kangen pada saya.
okay ces?
---
mister onces ; karena dia jagonya ngences. hahahaha
Change
"No one should ever ask themselves that: why am I unhappy? The question carries within it the virus that will destroy everything. If we ask that question, it means we want to find out what makes us happy. If what makes us happy is different from what we have now, then we must either change once and for all or stay as we are, feeling even more unhappy."— Paulo Coelho (The Zahir)
---
Saatnya berkemas. Mengepak. Berpamitan. Time to travel.
Selamat tinggal tidak pernah mudah. Sampai jumpa lagi, nanti, suatu saat, terdengar lebih ringan.
tapi itu, jujur? atau sekedar menghibur saja?
Sejujurnya. Ini mungkin selamat tinggal.
Saya harus beralih dari kamu. Ke tanah baru. Melewati laut, melayang di awan beberapa jam.
Karena kita pernah punya cerita. Maka saya ucapkan perpisahan.
Dan karena cerita diantara kita sudah selesai, maka ini selamat tinggal.
Kamu pasti akan bahagia. Dengan kebebasan. keleluasaan. dan semua harapan kamu yang terhalang oleh kehadiran saya. Semua impianmu. Cita-cita. Keinginanmu.
Semua akan baik-baik saja denganmu. Karena kamu mandiri kan? kamu sudah dewasa.
Seperti yang selalu kamu bilang. Dan sekarang saya tepati janji saya. Kebebasanmu.
Apa kebahagiaan untukmu san?
Apa kebahagiaanmu untukku?
Sudah bukan cinta, sudah bukan di hati letaknya. Tinggal jantung yang masih berfungsi.
Sekedar mempompa darah, sumber hidup. Hidup saya, yang masih dihargai beberapa orang yang menyayangi saya. Jelas bukan kamu.
Sekarang saatnya selamat tinggal. Iya kan?
Ucapkan saja. Tidak perlu berputar-putar. Saya sudah tahu. Tidak perlu tersenyum.
Dari sejak saat itu, saya sudah bilang, apa saja untukmu, asal kamu bahagia.
Saya tepati. Sebentar lagi.
Satu lagi,
kalau kamu sempat, dan banyak waktu luang, sempatkan satu dua jam, untuk memutar film nya kilas balik.
dan kalau kamu sudah berubah dari wujud robotmu, sempatkan untuk bilang maaf.
supaya kita impas. satu sama.
---
i hope you get what you want :)
Komentar
Belum ada komentar untuk file ini

